Jumat, 07 Februari 2014

Tata cara Sholat Nabi Muhammad SAW berdasarkan Hadist

Tata cara Sholat Nabi Muhammad SAW berdasarkan Hadist

PERMULAAN SHALAT

1. Memperbaiki (menyempurnakan) wudhu’, yaitu mengerjakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu ingin mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan usaplah  kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” 
(QS, Al-Maidah : 6), dan Nabi saw bersabda, “Tidak diterima shalat kecuali dalam keadaan suci.”, dalam riwayat lain  “Allah tidak menerima shalat salah satu diantara kalian ketika berhadats sehingga ia berwudhu.” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

2. Orang yang shalat harus menghadapkan wajahnya ke kiblat, yaitu Ka’bah dimana saja dia berada dengan badannya dengan niat dalam hatinya mengerjakan shalat yang dikehendaki dari (shalat) fardhu atau (shalat) sunat. 

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Jika engkau bangkit hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah,” 
(HR. Bukhari Muslim),  

dan tidak mengucapkan niat dengan lisannya (bagi yang menghendaki), karena melafatkan niat dengan lisan tidak disunahkan oleh Nabi saw juga para shahabat ra, namun boleh juga dilafatkan dengan lisan. Apabila dalam shalat jama’ah ada orang perempuan sebaiknya dibuatkan satir (pembatas).

3. Membaca takbiratul ihram, dengan mengucapkan, “Allahu Akbar” seraya mata memandang tempat sujudnya. Dari ‘Aisyah ra berkata, “Adalah Rasulullah saw jika membuka shalat dengan membaca takbiratul ihram,” 
(HR. Muslim) 

Dari Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Apakah sebabnya kaum-kaum itu mengangkat pandangannya ke langit ketika shalat. Lalu Rasul mempertegas sabdanya itu dengan bersabda, ”Hendaklah mereka berhenti dari (pandangannya ke langit) itu, atau pandangan mereka dicabut.” 
(HR. Bukhari)

4.   Mengangkat kedua tangannya ketika takbir sampai sejajar dengan kedua bahunya atau sampai sekitar kedua telinganya. Abi Humaid As-Sa’idi berkata, “Aku melihat Rasulullah saw ketika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya,” 
(HR. Bukhari) 

Dari Wail bin Hujr ra berkata, bahwa telah melihat, “Sesungguhnya Nabi saw bertakbir ketika masuk (mulai) shalat dengan bertakbir (Alloohu Akbar) dengan mengisyaratkan kedua tangannya (diangkat) sekitar kedua telinganya kemudian diletakkannya dibalik bajunya kemudian diletakkannya tangannya yang kanan diatas tangannya yang kiri, maka ketika hendak ruku’ dikeluarkannya kedua tangannya dari balik bajunya, kemudian diangkat keduanya kemudian bertakbir (Alloohu Akbar)  maka ruku’lah. Maka ketika mengucapkan “Sami’alloohu liman hamidah” (I’tidal), diangkat kedua tangannya, maka ketika sujud, sujudlah diantara kedua telapak tangannya.” 
(HR. Muslim)

 5.   Meletakkan kedua tangan di atas dada. Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku telah memperhatikan benar kepada shalat Rasulullah saw, bagaimana cara ia shalat, maka aku melihat kepadanya, diletakakannya tangannya yang kanan di atas belakang tangannya yang kiri, memegang pergelangan tangan dan hasta tangan kiri itu,” 
(HR. Abu Daud)  

Wail bin Hujr pula ia berkata, “Pernah aku shalat bersama-sama dengan Rasulullah saw, lalu diletakkannya tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada.” 
(HR. Abu Bakar dan Khuzaimah)

6.   Disunnahkan membaca do’a istiftah (pembuka), yaitu  “Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamatii lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin. 
(HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra) 

dan dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa ada seorang sahabat yang menambahi do’a Rasul diatas dengan kalimat, “Alloohu akbar kabiiroo wal hamdulillaahi katsiiroo wasubhaanalloohi bukrotaw wa ashiilaa.”Maka Rasul bersanda, “Siapakah yang membaca kalimat begini dan begitu?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya ya Rasulullah!” Rasulullah bersabda, “Aku kagum dengan kalimat itu dimana pintu langit terbuka karena kalimat itu.”  
(HR. Muslim)  

atau dengan do’a, “Alloohumma baa’id bainii wa baina khothooyaaya kamaa baa’adta baimal masyriq wal maghrib, Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Alloohumma ighsilnii min khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barodi.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra), 

jika menghendaki (boleh juga ) membaca do’a sebagai ganti dari do’a itu dengan, “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika wa tabaaroka ismuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghoiruka.” Kemudian  membaca ta’awudz. Dari Jubair bin Muth’am ra berkata, adalah Nabi saw membaca ta’awudz sebelum membaca fatihah. 
(HR. Ahmad dan Abu Daud) 

Juga mengenai lafal basmalah. 
Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi saw bersabda, “Apabila kamu hendak membaca Alhamdulillah (Alfatihah), maka bacalah Bismillahirrahmanirrahim, karena sesungguhnya Alhamdulillah (Alfatihah) itu Ummul Kitab dan Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Bismillahirrahmanirrahim itu salah satu dari ayatnya.” 
(HR. Daruquthni dari Abu Hurairah ra) 

dan membaca fatihah bagi yang mampu, karena Nabi saw bersabda, “Tidaklah sah shalat yang tidak membaca fatihah didalamnya.” 
(HR. Bukhari Muslim  dari Ubadah bin Shamith ra) 

Bagi yang belum bisa membaca fatihah boleh membaca yang lainnya. Nabi saw bersabda, “Apabila kamu diperintah mengerjakan sesuatu, maka lakukanlah darinya sesuai kemampuanmu.” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra), 

dan mengucapkan sesudahnya “Amiin”. Nabi bersabda, “Jika imam selesai membaca “Ghoiril maghzhuubi ‘alaihim wa ladh-dhoolliin” maka ucapkanlah “Amiin” karena barangsiapa ucapannya tepat dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” 
(HR. Bukhari) 

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Bila imam membaca “Amiin” maka imiin pulalah olehmu, karena malaikat mengaminkan beserta aminnya imam. Maka barangsiapa yang sama aminnya dengan amin malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 
(HR. Bukhari Muslim) 

Dalam riwayat lain Nabi saw seusai membaca “Ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin” Maka beliau berkata, “Amiin” dengan memanjangkan suaranya 
(HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud dari Wail bin Hujr ), 

kemudian membaca surat yang mudah.dalam dua rakaat pertama, jika shalat lebih dua rakaat maka rakaat berikutnya cukup membaca Fatihah saja. Bahwasanya Nabi saw membaca Ummul Kitab (Alfatihah)  dan dua surat pada shalat zhuhur, dan pada rekaat berikutnya (dua rakaat terakhir) dengan Ummul Kitab saja. Kadang-kadang beliau memperdengarkan Al-Qur’an kepada shahabat (dalam shalatnya -yang jahriyah-) 
(HR. Muttafaq ‘Alaih).

7.   Ruku’ dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, kepalanya diluruskan dengan punggungnya, kedua tangannya diletakkan di kedua lututnya dengan merenggangkan jari-jari (tangannya), serta thuma’ninah dan mengucapkan, “Subhaana rabbiyal azhiimi” dan yang utama diulang tiga kali (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra) atau lebih banyak, dan disunatkan jika menambahi bacaan dengan “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah ra) 

Dari Aisyah ra berkata, “Dan biasanya bila beliau ruku’, maka beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi antara itu.” 
(HR. Muslim)

8.   Mengangkat kepala dari ruku’ (I’tidal), dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga dengan mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” baik ketika berjama’ah maupun sendirian dan ketika sudah berdiri membaca, “Robbanaa walakalhamdu” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra) 

atau “Robbana lakalhamdu mil’us samaawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai-im ba’du.” 
(HR. Muslim dari Abdullah bin Abi ‘Aufa) 

atau “Robbanaa wa lakalhamdu hamdan katsiiroon thoiyiban mubaarokan fiihi,” 
(HR. Muslim) 

Disunatkan dalam i’tidal meletakkan kedua tangannya diatas dadanya seperti yang dilakukan sebelum ruku’ (sesudah takbiratul ihram) dan boleh juga tidak. 
Dari Wail bin Hujr dan Sahal bin Sa’ad ra, bahwasanya Nabi saw setelah mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” dan mengangkat kedua tangannya dan berdiri tegak hingga kembali semua tulang pada tempatnya seperti semula.” 

9.   Sujud dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, mendahulukan (meletakkan) kedua lututnya sebelum kedua tangannya, “Adalah Nabi jika ia sujud, meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.”  
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Wail bin Hujr)

 jika  hal itu mudah dilakukan, apabila sulit maka boleh sebaliknya dengan menghadapkan jari-jari kaki dan jari-ari tangannya (dirapatkan) ke arah kiblat, ” Adalah Rasulullah saw jika ia sujud, lalu diletakkannya kedua telapak tangan dan kakinya dan anak-anak jarinya ke kiblat.” 
(HR. Baihaqi dari Al-Bara’ in ‘Azib). 

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Adalah Nabi saw apabila ruku’ merenggangkan jari-jari tangannya, dan apabila sujud merapatkan jari-jari tangannya.” 
(HR. Al-Hakim) 

Dan adalah sujud itu dengan tujuh anggauta, yaitu jidat beserta hidung, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan dua ujung jari-jari kaki menghadap ke kiblat. Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Aku diperintahkan sujud atas tujuh tulang, atas dahi dan beliau menunjuk   dengan tangannya atas hidungnya, dua tangannya, dua lututnya, dan ujung-ujung jari kedua kakinya.“ 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

dengan mengucapkan, “Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih” diulang tiga kali atau lebih, dan disunatkan menambahkan ucapan, “Subhaanaka Alloohumma robbanaa wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” Dari Aisyah ra berkata, adalah Nabi saw memperbanyak bacaan tersebut (HR. Bukhari Muslim) 

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Nabi saw bersabda, “Dan bila sujud, maka membaca “Subhaana robbiyal a’la wa bihamdih” tiga kali, maka sesungguhnya telah sempurna sujudnya, dan itulah sekurang-kurangnya.” 
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi) 

Dan di dalam sujud memperbanyak do’a, baik dalam shalat wajib atau shalat sunat.  Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca 
Al-Qur’an sewaktu ruku atau sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Tuhan, dan ketika sujud maka bersungguh-sungguhlah berdo’a, karena besar harapan do’amu dikabulkan. 
(HR. Muslim) 

Dalam sujud harus merenggangkan anggauta badan dari lambungnya, dan perutnya dari kedua pahanya. Dari Anas ra berkata dari Nabi saw bersabda, “Luruskanah badanmu ketika sujud dan janganlah salah satu diantaramu menghamparkan kedua lengan tangannya sebagaimana anjing menghamparkan tangannya.” 
(HR. Bukhari Muslim) 

Dari Barra’ bin ‘Azib ra, Rasul bersabda, “Apabila engkau sujud maka letakkan kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikutmu.” 
(HR. Muslim)

10.  Mengangkat kepala (bangun) dari sujud dan membaca takbir, “Alloohu Akbar”, dengan duduk iftirasy yaitu menghamparkan kakinya yang kiri (diduduki) dan menegakkan kakinya yang kanan menghadapkan ujung jari kaki ke kiblat 
(HR. Muslim dan Baihaqi dari Aisyah ra,.), 

dan kedua tangan diletakkan diatas kedua lutut dan membaca, “Robbighfirlii (Alloohummaghfirlii) warhamnii (wajburnii) wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii.” 
(HR. Abu Daud da Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra)

11. Sujud yang kedua dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dan melakukan sujudnya seperti sujud yang pertama.

12. Bangun (mengangkat kepala) dari sujud membaca takbir “Alloohu Akbar”, dan duduk sebentar yaitu duduk istirahah (istirahat), dan ini sunat, jika ditinggalkan tidak mengapa, tidak ada bacaan atau do’a. Kemudian berdiri untuk rekaat kedua dengan bantuan kedua lutut jika itu mudah dilakukannya, jika sulit, maka boleh dengan bantuan tangan ke tanah (lantai) kemudian membaca fatihah dan membaca apa (surat) yang mudah (bisa) dari Al-Qur’an, kemudian melakukan apa yang telah dilakukan seperti pada rekaat pertama.

13.       Jika shalat itu shalat yang dua rakaat seperti shalat Shubuh, Jum’at, atau shalat ‘Id, duduk (terakhir)nya (bukan duduk iftirasy seperti ketika duduk diantara dua sujud atau duduk pada dua rakaat pertama (tahiyat awal), yaitu  kaki kiri diduduki dan kaki kanan berdiri dan ujung jari kaki menghadap kiblat), diletakkannya tangan kanan diatas paha yang kanan semua jari-jari di genggam kecuali jari telunjuk untuk berisyarat tauhid, dan jika jari kelingking dan jari manis digenggam, ibu jari (jempol) dan jari tengah di akadkan (dilingkarkan) dan memberi isyarat (tauhid) dengan telunjuk itu lebih baik. 

Dari Ibnu Umar ra berkata, “Sesunguhnya Rasulullah saw apabila duduk untuk tasyahud, diletakkannya tangannya yang kanan diatas lututnya yang kanan, dan diakadkan bilangan lima puluh tiga (huruf arab), dan diisyaratkan dengan telunjuk.” 
(HR. Muslim) 

Mengisyaratkan dengan telunjuk ketika mengucapkan “Laa Ilaaha -Illallooh-” (HR. Al-Baihaqi) Dari Ibnu Zubair ra, “Sesungguhnya Nabi saw adalah ber-isyarat dengan telunjuk dan tidak menggerak-gerakkannya.” 
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban) 

Dari Wail bin Hujr berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw mengangkat anak jarinya (telunjuk ketika tasyahud), maka aku melihat ia menggerak-gerakkanya, yang memanggil-manggil dengan jari itu.” 
(HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi)  

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Sesungguhnya  Nabi saw meletakkan sikunya yang kanan diatas pahanya yang kanan, kemudian diakadkannya jari-jarinya, yaitu kelingking dan yang mengirinya (jari manis dan jari tengah), dan dibuatnya lingkaran dengan jarinya dengan ibu jari (jempol)nya, lalu diangkat telunjuknya dan kulihat ia mengisyaratkan dengan telunjuk itu.” 
(HR. Al-Baihaqi), 

dan meletakkan tangan kiri dan sikutnya diatas paha yang kiri kmudian membaca tasyahud, yaitu “Attaahiyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoiyibaatu lillaah……ilaa akhirihi 
(sampai akhirnya) 
(HR. Muslim) 

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah saw menoleh kepada kami lalu bersabda,”Apabila seorang dari kalian shalat, hendaklah mengucapkan: “Attahiyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoiyibaat, assalaamu’alaika aiyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barookaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh.“ Kemudian hendaklah memilih do’a itu sesuai yang dia sukai lalu berdo’a dengan do’a itu. 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

Kemudian membaca, ”Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid.” Dari Fadholah  bin ‘Ubaid ra berkata, Rasulullah saw pernah mendengar seorang yang berdo’a di dalam shalatnya  dan tidak membaca shalawat atas Nabi, lalu beliau bersabda, “Jika diantara kamu shalat, maka hendaklah memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjungnya kemudian membaca shalawat atas Nabi saw kemudian berdo’a dengan do’a yang dia sukai.” 
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim) 

Dari Abu Mas’ud ra berkata; Basyir bin Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau, bagaiman cara kami mengucapkan shalawat atasmu? Beliau diam sebentar dan berkata, “Ucapkanlah; Alloohummaa sholli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Dan membaca salam sebagaimana telah kamu ketahui” 
(HR. Muslim) 

Kemudian berdo’a minta perlindungan dari empat hal yaitu, “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wamin fitnatil masiikhid dajjaal.” Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ketika diantara kamu sedang tasyahhud (Tahiyat), maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, Nabi berkata, “Alloohummaa innii a’uudzubika……(sampai akhir do’a).” 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

Kemudian berdo’a lagi dengan do’a-do’a yang dikehenddaki dari kebaikan dunia dan akhirat, dan apabila berdo’a untuk kedua orang tua atau selain keduanya dari orang-orang muslim maka tidaklah mengapa. Adalah hal itu dilakukan dalam shalat fardhu maupun sunat sama saja. Kemudian setelah itu barulah salam dari sebelah kanannya dan ke kirinya dengan mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh” 
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw adalah ketika salam dari arah kanannya dan baru arah kirinya sehingga terlihat putih pipinya seraya mengucap, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh.” 
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih) 

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi saw, maka ketika dia salam ke arah kanannya mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” dan ke arah kirinya juga mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” 
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih)

14.Jika shalat itu tiga rakaat seperti shalat Maghrib atau empat rakaat seperti Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya’, membaca tasyahud tersebut beserta shalawat atas Nabi saw kemudian bangkit berdiri bertatakan kedua lututnya dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu atau sekitar kedua telinganya dengan mengucapkan “Alloohu Akbar” dan meletakkan keduanya yaitu kedua tangannya di atas dadanya seperti dijelaskan sebelumnya dan membaca fatihah saja. Jika pada rakaat ketiga dan keempat dalam shalat zhuhur (misalnya) menambahkan dari al-Fatihah tidaklah mengapa. 

Ketetapan ini sebagaimana petunjuk dari Nabi saw dari riwayat Abi Sa’id ra. 
Kemudian setelah membaca tasyahud (akhir) sesudah rakaat ketiga dari maghrib dan sesudah rakaat keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan ‘Isya’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya didalam shalat yang dua rakaat, kemudian salam dari arah kanan dan arah kiri, dan beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom” 
(HR. Muslim dari Tsauban ra)

 “Laa Ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) 

“Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’tawa laa yanfa’u dzal jaddi minkaljad” 
(HR. Muttafaq ‘Alaih dari Mughirah bin Syu’bah ra)

 “Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah, laa ilaaha illalloohu wa laa na’budu illaa iyyah, lahun ni’matu wa lahul fadhlu wa lahuts tsinaa’ul husni, laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diini wa lau karihal kaafiruun.” Dan bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid dan bertakbir demikian pula, dan mengucapkan untuk menyempurnakan seratus, “Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qoodiir.” 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) 

Dan membaca ayat kursi, al-Ikhlash dan surat mu’awidzatain 
sesudah selesai tiap-tiap shalat 
(HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani dari Abi Amamah ra), 

dan disunnatkan mengulangi masing-masing surat tersebut tiga kali sesudah shalat fajar (Subuh) dan Maghrib. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentangnya dari Nabi saw, dan tiap-tiap dzikir itu hukumnya sunat bukanlah fardhu. 
Dan Allah lah yang telah memberikan taufik kepadaku.

Dan semoga Allah memberikan keselamatan dan keberkahan kepada Nabi kita 
Muhammad saw bin ‘Abdullah dan atas keluarganya, sahabat-sahabatnya 
dan pengikut-pengikutnya yang baik sampai hari pembalasan. 
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Wallahu A’lam

Sumber Rujukan :

Al-Qur’an Al-Karim
Shahih Bukhari
Shahih Muslim
Sunan Abu Daud
Fikih Syafi’i oleh Idris Ahmad
Fikih Kifayatul Akhyar oleh Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini
Fikih Minhajul Muslim oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
Fikih Madzahib Al-Arba’ah oleh Abdurrahman Al-Jazairiy
Bulughul Maram oleh Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Subuulus Salam oleh Imam Muhammad bin Isma’il Al-Kahlani (Ash-Shon’aniy)