Sabtu, 08 Agustus 2015

KEKELIRUAN BUKU PENDIDIKAN YANG MENGHARAMKAN KATA “JANGAN” PADA ANAK


Salah seorang pendidik pernah berkata, “Pintu terbesar yang mudah dimasuki Yahudi ada dua, yaitu dunia psikologi dan dunia pendidikan.”
Karena itulah, berangkat dari hal ini. 
Kita akan mengupas beberapa “kekeliruan” pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dll. Yang kadang sudah menjangkiti beberapa pendidik muslim, para ayah dan ibu, yaitu melarang berkata “Jangan” pada Anak. 

Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, saya bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.
Mari kita lihat, beberapa perkataan ‘dalam pendidikan’ tentang larangan mengucapkan kata ‘jangan’ pada anak, misalnya “.. gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati,berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata ‘jangan’ karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata “jangan..”
Pada media online detik.com, pernah tertulis artikel, ‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’, bertuliskan demikian: “..Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak…” Pada sebuah artikel lain, berjudul, “Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, “Kata ‘jangan’ akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orangtua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak…” Nah, inilah syubhat (keraguan/kerancuan). 

Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang fatal. Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata ‘jangan’, apakah ini punya landasan dalam Al-Qur’an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata “Laa (jangan)”?
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”. 

Allohu Akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan kebenaran ini? 
Apa mau dibuang? Apa mau lebih memilih teori-teori yang dhoif?
Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman Al-Hakim? (Surah Luqman ayat 12 sampai 19).

Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya 
(“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst). 
Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. 
Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif yang sangat tegas dalam al-Qur’an. 
Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”. Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti “jangan” dengan “diam/hati-hati”? Karena ini bimbingan Alloh. Perkataan “jangan” itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.
Dan perkataan “jangan” juga positif, tidak negatif. 
Ini semua bimbingan dari Alloh Subhanahu wa ta’ala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada. 

Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah 
dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. 
Dan tidak satupun ada nama psikolog yang kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai. 

Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.
Nas alulloha salaman wal afiyah. Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.

Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”. 
Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.
Jadi, bila kita yakini dan praktikkan teori parenting barat itu, maka sesungguhnya kita bersiap anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. 
Haruskah kita simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam, dan kita lebih memilih 
teori2 yahudi? Astagfirulloh!

[Rujukan: Al-Qur’an, Akh Budi, Akh Yazid (Abu Hanin)
Syahadat diawali kata tidak. Nasehat Luqman menggunakan kata yang 
sama dengan makna jangan. Ada ribuan kata bermakna tidak/jangan dalam Al-Qur’an.
Tapi jika kita cuma mengetik bahasa Endonesiyah “jangan” di Al-Qur’an for android, ketemunya cuma sekitar 360 Saya pernah membahas ini di buku 
Saat Berharga untuk Anak Kita.

Di luar itu, jika kita seorang guru, salah satu hal penting untuk keberhasilan 
kelas adalah manajemen kelas. Dan urutan pertama dalam manajemen kelas 
adalah Aturan & Prosedur yang isi pokoknya Larangan dan Perintah.

Jangan Lupa Menyebarkannya, Sebagai Bahan Renungan Bersama